Abd. Muin Yusuf lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, 21 Mei 1920. Ia
melajar ngaji di madrasah Ainur Rafieq, madrasah yang didirikan Syaikh
Ali Mathar pada tahun 1931. Di waktu pagi, ia juga sekolah umum.
Pada
tahun 1934, Mu’in melanjutkan pendidikan agamanya di Madrasah Arabiyah
Islamiyah yang didirikan ulama besar Anregurutta As’ad. Saat belajar di
madrasah inilah, ia bertemua dengan calon ulama yang masyhur di Sulawesi
Selatan, di antaranya Anregurutta Ambo Dalle, Anregurutta Abduh
Pabbaja, Anregurutta Daud Ismail, dan sebagainya.
Pada tahun
1971, Mu’in mulai aktif di Partai Nahdlatul Ulama. Dan tak lama
kemudian, ia menjadi ketua tanfidziyah. Di bawah kepemimpinannya, NU
berhasil tumbuh beserta badan otonominya, IPNU/IPPNU, GP Ansor, Fatayat
NU.
Pada Pemilu tahun 1971, Partai NU menempati posisi kedua
dengan 18,67% suara, di bawah Golkar dengan perolehan 62,80% suara. Dan
Muin menjadi anggota DPRD Sidrap dari Partai NU.
Ketika Partai NU
fusi ke dalam PPP, Mu’in juga menjadi bagian darinya, tapi menempati
tokoh sentral. Pada pemilu 1977, ia masuk Golkar dengan terpaksa, karena
disebarkan fitnah bahwa dirinya anggota DI/TII.
Mu’in memang
pernah lari ke hutan ikut DI/TII, tapi saat itu karena tidak ada
pilihan, masuk PKI atau ikut DI/TII. Mu’in masuk Golkar dengan berpegang
dalil accemali-maliko naekiyaa aja numali. Artinya, ikuti arus, api
jangan terbawa.
Mu’in terbilang ulama yang produktif menulis.
Karyanya yang monumental adalah tafsir Al-Qur’an 30 juz, namanya Tafsere
Akorang Ma’basa. Tafsir yang menggunakan bahasa Bugis dengan aksara
Lontara ini berjumlah sebelas jilid.
Tafsir Al-Qur’an tersebut
mencakup munasabah ayat, asbabun nuzul, terjemah per ayat, dan
penjelasan tiap-tiap ayat. Tafsir ini ditulis selama delapan tahun, dari
1988 hingga 1996. Selain tafsir ia juga menulis buku khotbah berjudul
al-Khutbah al-Mimbariyah (1944) dan bukuh fiqih berjudul Fiqih Muqoron.
Karya
besar lainnya adalah Pondok Pesantren Al-Urwatul Wusqa. Pesantren yang
didirikan pada bulan April 1974 ini merupakan pesantren pertama di
Sidrap, yang hari ini masih terus berkembang. Abd. Mu’in Yusuf pulang ke
Rahmatullah tahun 2004. (Hamzah Sahal)